book now






Tantangan AI dalam Optimalisasi Pendapatan Daerah

 

Tantangan AI dalam Optimalisasi Pendapatan Daerah

 

JAKARTA - Penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan daerah di Indonesia masih menghadapi jalan terjal. Alih-alih menjadi solusi transformatif, banyak proyek AI, terutama dalam inisiatif "Smart City," berakhir sebagai pajangan mahal tanpa dampak nyata.

Persoalan mengemuka dalam Webinar “Optimalisasi Pendapatan Daerah Melalui Integritas Artificial Intelegence (AI) dan Perbaikan Tata Kelola Pemerintah Daerah” yang diselenggarakan oleh Visi Integritas, Jumat 22 September.


AI Bukan Alat Ajaib: Tantangan dari Kepemimpinan

Menurut Ade Irawan, Direktur Eksekutif Visi Integritas, masalah utama bukanlah pada teknologi AI itu sendiri. "AI bukan tukang sulap," tegasnya. Sebuah sistem AI akan optimal jika dimanfaatkan secara maksimal, diawasi, dan terus dikembangkan. Sebaliknya, tanpa pengawalan yang serius, sistem secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak signifikan. Belajar dari kasus Smart City, Ade berpendapat bahwa banyak sistem yang ada saat ini belum berhasil. Salah satu penyebab utamanya adalah komitmen pimpinan yang lemah. Pengadaan teknologi seringkali hanya dianggap sebagai ajang pencitraan. Setelah dibeli dan diresmikan, sistem dibiarkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut. Hal ini menciptakan kesenjangan antara ambisi dan realitas.

 

Proyek Mercusuar Tanpa Fondasi

Fenomena ini, yang disebut "proyek mercusuar" oleh Tutik Rachmawati dari Universitas Parahyangan (UNPAR), menunjukkan bahwa tujuan utama bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk pencitraan. "Mereka menganggap kalau sudah punya AI, artinya berinovasi," kata Tutik. Padahal, inovasi-inovasi ini sering kali tidak berkelanjutan dan bisa dibatalkan begitu saja oleh pejabat penerus, sebuah praktik yang dikenal sebagai budaya "cancel culture".

Senada dengan Ade, Armand Suparman, Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), menegaskan bahwa kinerja otonomi daerah sangat bergantung pada kapasitas dan integritas kepala daerah. "Kalau si bupati atau walikota selesai menjabat, selesai juga daerahnya," ujarnya. Ketergantungan pada pemimpin ini menjadi masalah karena kebijakan dan proyek tidak memiliki keberlanjutan.

Selain faktor kepemimpinan, masalah mendasar juga terletak pada fondasi teknisnya. Armand menyoroti bagaimana manajemen data yang buruk menjadi hambatan terbesar. AI memerlukan data berkualitas tinggi untuk berfungsi, tetapi data di pemerintahan daerah seringkali tidak terbarukan, tidak terintegrasi, dan tersebar di berbagai sistem yang tidak terhubung. "Antara e-budgeting, e-planning, dan layanan publik lainnya, itu saling tidak terintegrasi," jelasnya. Fragmentasi data ini menyulitkan AI untuk mengolah informasi secara komprehensif, mengurangi efektivitasnya dalam meningkatkan pendapatan.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah kapasitas SDM yang lemah. Meskipun sistem sudah ada, para pegawai di lapangan tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengelola dan mengoptimalkannya. Tanpa pelatihan yang berkelanjutan, investasi pada teknologi canggih menjadi sia-sia. Ade Irawan menyebutkan, "Yang kurang pintar adalah mereka yang mengimplementasikan," bukan sistemnya. Hal ini diperparah dengan sikap yang terlalu birokratis dalam pengembangan AI, yang seharusnya bersifat dinamis dan adaptif.

Partisipasi Publik yang Semu

Ketergantungan pada vendor juga menjadi isu krusial. Proyek-proyek AI sering kali dikerjakan oleh pihak ketiga tanpa adanya alih pengetahuan yang memadai. Ketika kontrak selesai, pemerintah daerah tidak memiliki kemampuan untuk merawat atau mengembangkan sistem tersebut secara mandiri. Armand menambahkan bahwa komitmen anggaran yang hanya satu tahun juga menghambat pengembangan sistem yang idealnya bersifat multi-tahun.

Selain itu, partisipasi publik yang minim juga menghambat keberhasilan. Menurut Ade, keterlibatan warga secara substantif dalam pengawasan dan perumusan kebijakan sangat penting. Namun, dalam banyak kasus, partisipasi hanya sebatas sosialisasi, bukan interaksi dua arah yang dapat memberikan masukan berarti. Hal ini menjadikan kebijakan, seperti yang disampaikan Tutik, "seperti perdukunan, tiba-tiba datang dari langit" tanpa didasarkan pada data atau masukan dari masyarakat. Armand juga menekankan bahwa publik jarang dilibatkan dari awal perancangan kebijakan, melainkan hanya menerima draf yang sudah jadi.

Jalan ke Depan: Komitmen dan Ekosistem Terintegrasi

Dari berbagai tantangan ini, para ahli sepakat bahwa kunci keberhasilan AI dalam tata kelola pemerintahan adalah kepemimpinan yang kuat dan berintegritas. Kepemimpinan yang visioner akan memastikan bahwa AI digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata, bukan hanya untuk pencitraan. Ini mencakup komitmen untuk membangun ekosistem data yang terintegrasi, berinvestasi pada penguatan SDM, dan memastikan keterlibatan publik yang bermakna.

Tanpa fondasi yang kuat, AI akan tetap menjadi alat yang mahal namun tidak berdaya, gagal mewujudkan potensi besarnya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih efektif dan transparan. (Visi Integritas)